Welcome ^_^

Jumat, 22 Januari 2016

21 Januari 2016

Banyak orang dalam kehidupan saya. Beberapa dari mereka semakin mendekat, beberapa dari mereka semakin merasa bosan dan menjauh (entah, mungkin itu hanya perasaan saya saja atau memang nyata). Untuk beberapa saat saya merasa benar-benar kehilangan. Tapi, kemudian saya tersadar bahwa hanya karena seseorang, saya kehilangan kesempatan untuk mengenal lebih jauh mereka yang mendekat.

Beberapa hari terakhir, merasa sangat dilupakan oleh mereka yang selalu saya perhatikan. Disisi lain, saya merasa sangat bersyukur dan beruntung karena mendapatkan banyak perhatian dari banyak orang yang sama sekali tidak pernah saya perhatikan. Mungkin memang masanya. Masanya saya dan mereka adalah beberapa tahun yang lalu. Waktu itu semuanya cukup sederhana. Sapaan yang yang sering terdengar tanpa harus menunggu. Begitu juga dengan cerita pribadi mereka yang tiba-tiba dikatakan tanpa harus saya minta. Yah, sangat sederhana tapi menjadi hal yang sangat saya rindukan saat ini.

Masanya mulai berubah. Saya hanya bisa menunggu dan sesekali atau bahkan seringkali menyapa mereka duluan. Yah, karena perasaan saya mengalahkan logika saya.

Rabu, 23 September 2015

Merasa

Adakah perkenalan tanpa pertemuan? Adakah rasa rindu tercipta tanpa pernah sekalipun melihat satu sama lain? Adalah rasa gugup seketika membayangkan seseorang yang tidak pernah bertatap muka berada dalam bayang-bayang masa depan yang begitu cerah? Adakah rasa cinta yang hanya mengetahui sepihak?

 “Tak kenal maka tak sayang”. Sebuah pepatah yang sudah sangat sering terdengar di telinga kita. Seseorang menjalin hubungan berawal dari sebuah pertemuan. Dari pertemuan itu, mereka saling berkenalan satu sama lain. Mengetahui pribadi luarnya hingga pribadi yang disembunyikan. Membuatnya berada dalam jalinan pertemanan, persahabatan, persaudaraan atau bahkan hubungan yang sampai saat ini banyak orang lakukan “Pacaran”.

 Rindu hanya akan tercipta saat seseorang berada dalam suatu hubungan seperti yang saya sebutkan di atas. Rasa gugup yang membuat senyum tercipta membayangkan hal-hal indah bersama mereka. Kasih sayang yang perlahan-lahan mulai tumbuh ketika mengenal lebih jauh tentang mereka dan juga air mata yang tercipta karena takut kehilangan.

 Bagaimana halnya jika seseorang jatuh cinta dengan senyuman dalam layar 2 dimensi? Adakah cinta yang benar-benar rasa hanya karena melihat seseorang dalam suatu kemayaan?

 Dia benar-benar ada. Dia begitu dekat. Dia punya hubungan yang sampai kapanpun tidak bisa dipisahkan dengan seseroang yang sangat saya kenal. Lahir di kota yang sama. Namun, tidak sekalipun pernah meilihatnya secara langsung. Dia yang hanya bisa saya liat dalam kemayaan.

 Untuknya yang begitu asing. Saya selalu berharap, Sang Pencipta menakdirkan pertemuan itu.

Sabtu, 03 Januari 2015

3 Januari 2015 Kemalasan

Salah satu musuh manusia yang paling berat dilawan adalah kemalasan dan hanya ada satu cara untuk membasmisnya yaitu dengan kebiasaan rajin. Hahaha. :D

Saat ini saya berada di puncak tertinggi dari kemalasan itu. Sama halnya jika kita berada di puncak tertinggi sebuah pegunungan yang begitu indah, seakan tak ingin kembali. Cuaca yang begitu mendukung untuk terus menerus memeluk bantal didalam selimut sementara disamping saya terletak sebuah benda yang sangat familiar bagi seorang mahasiswa. Laptop yang masih menyala sedari tadi dengan tampilan file presentasi proposal yang sudah kelar sejak kemarin namun belum dipelajari. Kemalasan menghabiskan waktu belajar saya.

But, i’ve to back now. Bangun dan membasahi seluruh tubuh untuk menghapuskan kemalasan itu. Mengambil posisi ternyaman untuk belajar mempresentasikan penelitian ini dalam bahasa Inggris (dan inilah yang membuat saya gila). Sesaat kemalasan mulai menghilang, kelaparan mendatangi saya. Persediaan makanan untuk seorang mahasiswa kost-kostan yang sudah habis membuat kefokusan saya terganti dengan kegelisahan. Hujan yang sejak semalam menjatuhi bumi sektor parangtambung (atau mungkin sekota Makassar) membuat saya harus berdoa agar berhenti sejenak “Ya Allah, hanya 5 menit. Please” (untuk mencari makan diluar).

Perut terisi dan berusaha kembali untuk fokus. Hanya beberapa menit menghafalkan kalimat presentasi saya, lagi dan lagi kemalasan menyapu lembut mata dan rambut saya hingga tertidur di atas lantai dingin. Sungguh sulit melawan kemalasan itu bukan?

Suara adzan membangunkan saya. Kemalasan itu ternyata kalah jauh dari niat saya untuk bersujud kepadaMu Ya Allah. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan saya beberapa bulan terakhir ini. Yah, semenjak KKN-PPL itu, saya sudah mulai membiasakan diri untuk shalat tepat waktu. Alhamdulillah. J


Malampun tiba, masih dalam kondisi yang sama; duduk di depan laptop sambil dengar musik dipadu dengan suara hujan. Kemalasan benar-benar menguasai saya hari ini. Sadar tapi masih belum sanggup melawan kemalasan itu. Berharap besok jauh lebih baik. Aamiin.

Jumat, 02 Januari 2015

2 Januari 2015 Ingin Pulang

Ketika tak satupun orang yang dapat mengerti perasaanmu, yang bisa dilakukan adalah cukup tersenyum.

2 Januari 2015. Kalian takkan pernah tau rasanya bagaimana menjalani hari seakan menjadi orang yang tersibuk. “I can do anything. I can be anything.” Saya pernah mengatakan hal seperti ini di status saya. Bagaimanapun komentar orang-orang terhadap saya, I dont care. Bukankah saya akan lebih bahagia dari mereka. Bukankah saya menjadi sorotan utama dalam kehidupan ini. Yah, karena saya adalah pemeran utama dalam kehidupan saya sendiri. Begitu juga dengan kalian, kalian pemeran utama dalam kehidupan kalian.

Hari ini tidak ada yang begitu spesial. Melalui pagi di jurusan Fisika tercinta, tepatnya di Perpustakaan.  Jurusan masih sangat sepi, efek libur tahun baru. Menghabiskan waktu bercerita, tertawa, dan mengerjakan proposal bersama sahabat saya. Setelah shalat Jumat tiba, saya memutuskan untuk pulang.

Di ruang kecil tempat saya selama 3 tahun lebih beradu dengan pikiran dan perasaan saya sendiri, saya mulai merasa sangat merindukan keluarga yang jauh disana. Sendiri di kota ini tanpa sandaran disaat saya begitu lelah, tanpa teriakan dari Mama, tanpa perselisihan dengan kakak, dan tanpa senyuman dari Bapak. Sangat merindukan mereka.

“Ma, Im so stress Ma. Really stress. Ada saatnya dimana saya benar-benar jenuh dengan keadaan saya sekarang Ma. Rasa-rasanya seperti sendiri di dunia ini. Disaat saya sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir perkuliahan saya, ada saja keinginan saya untuk mengakhiri semuanya dengan cepat Ma. I really miss you Ma.  Mereka yang tiap hari memberi saya semangat karena sapaan dan senyum mereka, mulai sangat jarang saya dengar dan temui Ma, dan now I really need you. I wanna go home. Kota ini  benar-benar asing buat saya Ma. Saya merajinkan diri pergi ke kampus hanya untuk mencari keramaian di sekitar orang-orang berpendidikan dan berharap mendapatkan semangat dengan hanya melihat mereka. Setiap hari memasuki gedung itu dengan penuh senyuman semangat luar biasa menyelesaikan kewajiban saya Ma, begitu juga dengan hari ini. But something make me down. Mereka yang tiap hari menjadi penyemengat buat saya perlahan hilang. Sebelumnya tidak seorangpun yang tau begitu pun juga Mama, bahwa selain dari kalian (keluarga saya), saya menemukan semangat untuk mengerjakan semuanya dari mereka. Betapa pentingnya sapaan mereka buat saya Ma, yah karena mereka saat ini yang terdekat dengan saya. Melihat mereka pun sudah membuat saya begitu bersemangat. Tapi sekarang semuanya beda. Kemarin, saya masih sempat berharap ini semuanya adalah candaan mereka. Tapi sekarang sudah tidak lagi Ma. Candaan ataukah memang begitulah kenyataannya, saya sudah menghapus mereka sebagai salah satu orang-orang yang begitu penting buat saya. Dengan mudahnya? Iya, karena mereka melakukan ini disaat saya benar-benar membutuhkan mereka Ma. I really need them. I really miss. But they doesnt care more.

Rabu, 31 Desember 2014

Happy New Year 2015



Musik kembali mengiringi hariku. Kali ini hariku sangat kurang karena shalat yang mengawali hari terbaikku terlupakan. Godaan syetan ternyata begitu kuat di akhir tahun ini. Yah, 31 Desember 2014. Hari terakhir di tahun yang penuh kenangan buatku.  Sejak kemarin, aku merasa sangat sulit untuk menuliskan ini semua. Namun, tiba-tiba hari ini terasa sangat mudah bagi jari-jariku untuk menyalurkan apa yang kurasakan dan kupikirkan.

2014. Perjalanan yang terasa panjang di tahun ini padahal memiliki jumlah hari yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Semua karena banyaknya kenangan terindah yang tercipta di dalamnya.  Di angka ini, aku dipertemukan dengan banyak orang yang luar biasa. Di angka ini, aku menemukan banyak pelajaran yang begitu bermanfaat. Di angka ini, aku lebih memahami arti kerinduan dan ketulusan. Di angka ini, aku belajar untuk lebih banyak bersyukur kepadaNya.

Dimulai dari Januari 2014. Bulan itu adalah bulan kelahiranku, tepatnya 11 Januari 2014 aku berumur genap seperlima abad. Banyak kebahagiaan yang mengiringi usiaku waktu itu. Dari sahabat dan juga junior –junior yang sampai sekarang sangat akrab denganku. Mereka memberikan sejuta senyuman di bulan itu. Februari, Maret, April, dan Mei menjadi bulan-bulan yang penuh dengan kesibukan sebagai mahasiswa semester 6. Berbagai tugas silih berganti membuat begadang dan galau. Terlebih untuk mata kuliah Microteaching. Memasuki bulan Juni, aku dan teman-teman seangkatan sudah mulai disibukkan dengan pengurusan berkas untuk mengikuti KKN-PPL terpadu. Banyak cobaan untuk sampai di jalan itu salah satunya adalah pengurusan dengan dosen Microteaching yang begitu tegas. Hanya untuk meminta tanda tangannya saja harus sampai jam 10 malam di jurusan. Tapi, harus percaya bahwa usaha tidak mungkin berkhianat. Terbukti, dengan tiba saatnya aku dan teman-teman angkatan 2011 UNM megikuti pembekalan KKN-PPL.

Bulan puasa di bulan Juli 2014 sungguh tidak terasa. Bulan itu, rasa penasaran menyelimutiku tentang penempatan KKN-PPL nantinya. Dalam beberapa hari pengumuman penempatan pun keluar. Harapanku yang dulu agar penempatanku ada di Bone sudah tidak mungkin karena Bone tidak termasuk di salah satu  penempatan KKN-PPL UNM. Bahagia dan kecewa ketika mengetahui Soppeng adalah tempat KKN-PPL ku nantinya. Bahagia karena bisa satu daerah dengan 3 orang sahabatku. Tapi kecewa, karena hanya aku seorang diri yang terpisah posko dari mereka.

Hari besar umat Islam pun berlalu dengan penuh senyum dan hati yang kembali suci, InshaAllah. 1 minggu setelah itu, aku harus kembali ke Makassar untuk mengikuti Pembekalan Khusus KKN-PPL Terpadu daerah Soppeng. Disitu, aku mulai mengetahui teman-teman posko yang akan menjadi keluarga selama 3 bulan di Soppeng. Kesan pertama melihat mereka yang hanya berdiam diri dengan kelompoknya masing-masing tanpa senyum dan saling memperkenalkan diri. Melihat posko lain yang begitu mudahnya saling mengakrabkan diri, dalam hati kecewa aku berkata “Ya Allah, bisakah saya bertahan bersama mereka selama 3 bulan ke depan?”.

16 Agustus 2014, pemberangkatan Mahasiswa KKN-PPL UNM Daerah Soppeng. Ini pertama kalinya aku menghirup udara Soppeng. Hujan dan udara sejuk menyapa kami saat tiba di Kota Kalong itu, Watansoppeng. Sehari, 2 hari hingga hari-hari berikutnya, ternyata hanya butuh sedikit waktu untuk membuat kami semua berbaur dan terbuka. Persaudaraan kami pun semakin terasa dan membuatku semakin menyukai dan bersyukur mengenal mereka. 1 bulan, 2 bulan dan akhirnya tibalah di tanggal 15 November 2014. Sebuah hari perpisahan untuk kami. Untuk aku dan teman-teman poskoku. Untuk aku dan guru-guru SMAN 1 Watansoppeng. Untuk aku dan kalian (siswa-siswaku yang begitu kurindukan hingga kini). Kalian tau? Hari itu adalah hari yang begitu menyedihkan buatku selama tahun 2014 ini. Aku berharap waktu bisa lebih lama lagi. Aku berharap sehari bukan 24 jam, tapi lebih lama dari itu. Aku masih sangat ingin bersama dengan kalian. Mengajar kalian, tertawa dengan kalian, bermain dengan kalian dan berfoto selfie dengan kalian.

Hari-hari setelah meninggalkan kota Kenangan Terindah itu juga sangat menyedihkan buatku. Kebiasaan-kebiasaan selama 3 bulan di Kota itu ternyata tidak bisa kulakukan di Kota Daeng ini. I miss u so much. Sampai saat beberapa teman-teman poskoku kembali ke kota itu, aku hanya bisa menitip rindu ke siswa-siswaku. “maaf, tidak bisa mengunjungi kalian. salam sayang untuk kalian”.

Memasuki bulan Desember 2014, galau, pusing, stress, dan penuh dengan keluhan. Beginilah nasib mahasiswa semester akhir. Target dan planning yang melayang-layang di atas kepala. “Bisaji kah ini??” Pertanyaan yang tiap hari hadir. Penyusunan Tugas Akhir (Skripsi) menjadi topik tiap harinya bersama teman-teman seangkatanku. Perpustakaan jurusan Fisika adalah tempat favoriteku saat ini untuk bergosip, mengenang masa lalu, sambil berdiskusi tentang Proposal Penelitian.

Menuju hari ini, detik ini, godaan Syetan semakin kuat di akhir tahun ini. Saat ingin benar-benar fokus mengerjakan proposal, mereka terus-terusan mengosongkan perutku (lapar terus). Setelah perut terisi, mereka kembali mengelus-elus lembut kepalaku seakan meninabobokanku sampai-sampai beberapa kali aku harus tertidur di lantai. Dan ini kali ketiga aku terbangun di hari terakhir 2014 ini. Hanya berdiam diri di kost bersama laptop dan HP dan juga mereka (bantal2 kesayangan).

Malam pun tiba. Suara petasan tiap detik terdengar. Masih berada di ruangan ini. Nada BBM pun tak henti-hentinya menyapa gendang telingaku. Sesekali kualihkan pandangan dari layar laptop ke layar HP. Membuka BBM, Path dan Facebook. Semua tentang perayaan Tahun Baru. Malam Tahun Baru terbilang sangat biasa buatku. Bagi kebanyakan orang perayaan Tahun Baru mungkin harus sangat meriah. Tapi tidak denganku. Harapanku di malam tahun baru adalah hanya bisa bersama dengan keluarga. Tapi karena tidak mungkin, aku hanya bisa memanfaatkan malam ini dengan menulis dan mengerjakan proposal penelitianku. Mereview proposal hidup, target dan impian mungkin lebih baik dari pada keluyuran di malam hari bersama kemacetan dan polusi. Tiap mendengar bunyi petasan membuatku berpikir bahwa mereka semua sungguh tidak berpikir. Mereka membakar uang hanya untuk kesenangan semalam disaat banyak orang yang mengemis makan untuk bertahan hidup. Ya Allah sadarkan mereka. (Bukan sok, hanya saja mengajak kalian untuk melihat realita kehidupan orang-orang bawah).

Detik terus berganti. Keadaan sedetik yang lalu tidak akan pernah terulang. 2014 mengisahkan banyak kenangan terindah yang mustahil terulang. Dia hanya bisa ada dalam ingatan. Akan banyak orang-orang baru yang akan menghampiri kehidupan kita di 2015 nanti. Kesalahan-kesalahan apapun yang terjadi di tahun ini jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri kita di tahun 2015 esok dan seterusnya.

Terima kasih untuk kalian yang memberikan banyak pelajaran hidup untukku di tahun 2014 ini. Semoga tahun berikutnya, 2015 menjadi waktu-waktu terbaik untuk kita melakukan pekerjaan yang luar biasa dan bermanfaat. Memberikan banyak kebahagiaan untuk diri kita dan orang lain terutama keluarga. Bertemu dengan mereka yang dirindukan. Meraih gelar dari perjuangan selama 4 tahun dan menjadi orang yang lebih terpelajar. Aamiin.


Selamat Tahun Baru 2015. Bagaimanapun bentuk perayaannya, selalu ingat malaikat Allah selalu bersama kita, mencatat setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan.

Minggu, 23 November 2014

Selamanya

Seminggu sudah saya meninggalkan kota Kalong. Namun, rasa itu masih saja sama saat hari pertama berada di Kota Daeng ini, nyesekkkkk. Mengingat hal-hal yang telah dilalui selama 3 bulan bersama orang-orang yang awalnya asing banget menjadi begitu dekat seperti saudara. Tiap malam menjatuhkan air mata hanya karena mengingat kenangan indah bersama mereka dan juga puluhan bocah putih abu-abu SMA Negeri 1 Watansoppeng.

Sapaan mereka terdengar lewat pemberitahuan BBM dan Facebook saya tiap malamnya. Itu juga menjadi hal yang membuat rindu saya ke mereka bisa terobati. Walaupun saya masih begitu berharap bisa berkumpul bersama seperti masa-masa 3 bulan itu. Satu hal yang begitu saya sesalkan adalah kenapa keakraban saya dengan siswa-siswa saya baru terasa saat ini. Kenapa keakraban saya dengan mereka tercipta lewat media sosial. Padahal seringkali di sekolah ketika berpapasan mereka hanya tersenyum tanpa menyapa. Yah, itu SEBAGIAN dari siswa kelas 2 yang saya ajar.

Menempel kesan pesan kalian di ruangan saya. menjadikan foto-foto kalian slide show di desktop background laptop saya. Mendengarkan “vn” tiap hari (2 orang dari kalian) yang kalian kirimkan ke saya beberapa hari menjelang penarikan. Chat dengan kalian. Seharusnya hal-hal itu yang harus saya hindari supaya saya terbiasa tidak merindukan kalian. Tapi ada saja yang membuat saya melakukan semua itu. Hufft.

HP yang mulai sering lowbat karena grup “KKN-PPL Posko SMAN 1 WTSP” di BBM yang berisiknya tiap waktu.
K H A E R U L           : “Absen dulu”
Mitra Paradiba           : “Raisa hadir”
Husnia Arfan II         : “Zaskia Sungkar hadir”
Sry Asriani M.Nasir    : “LCB hadir  (Laudya Cyntia Bella)”
Nurlina Vividity          : “Nagita Slavina hadir dong”
Riska                      : “Maaf ya Donita baru hadir”
Fitriah Artina II        : “Fitri manis hadiratun”
HD                        : “Maudy hadir”
Muh. Arif                : “Afgan hadir”
Hahaha. Katanya sih posko artis. Over. :p Terima kasih dengan candaan kalian di grup. Sungguh sangat menghibur. Memiliki saudara seposko seperti kalian adalah suatu hal yang sangat saya syukuri sampai saat ini. Saya selalu bahagia menceritakan kalian semua ke teman-teman dan sahabat kuliah saya. Selalu berkata ke mereka “Bersyukurka seposko dengan mereka. Bersyukur bisa berada di SMA Negeri 1 Watansoppeng”. Dan sekali lagi rasa syukur itu justru membuat air mata saya mengalir. I miss U .

Banyak senior yang berkata seperti ini kepada saya “Sementara ji itu nyesekta dek, nanti juga bakalan dilupaji mereka karena sibuk maki urus skripsita. Dan mereka juga bakalan lupaji sama kalian. Janganmi terlalu mendramatisi sesuatu dek. Begitu ji memang”.
Huffftt. -_-“ Iyakah? Seperti itukah nantinya? Entahlah.

Untuk saudaraku Posko SMA Negeri 1 Watansoppeng
Kalian tau, saya juga tau kalau selamanya kita tidak akan pernah bisa melupakan hal-hal yang telah dilalui bersama-sama 3 bulan kemarin. Saya tidak perlu bilang atau meminta “Jangan pernah lupakan saya”.  Karena sudah sangat jelas, kalian tidak akan pernah bisa melupakan saya. iyyakan? (Hahaha. Over Confidence kan? Tapi itu pasti). Karena saya sendiri tidak akan pernah bisa melupakan karakter kalian masing-masing. Yang selalu ngajakin berantem dan wajahnya membuat seposko begitu kesal (HUSNI). Yang badannya kecil tapi pukulannya dan sindiriannya keras (FARAH). Yang menjadi orang tua tunggal terbaik untuk saya dan 13 saudara saya lainnya, ngoceh tiap hari (FITRI). Yang sudah meninggalkan bekas luka di belakang saya karena ditendang pas kerasukan dulu (RISKA). Yang sering garuk-garuk kepala dan punya mata ngantuk mirip saya (DD). Yang tiap hari panggil saya “Lebba” (SRI). Yang tiap detik telfonan sama pacar bawa HP ke kamar mandi (ULFA). Yang kompakan sama saya (RENI). Yang suka marah (ITA). Yang orangnya kocak tapi ternyata sangat cengeng (DARWIS). Yang kata-katanya selama 3 bulan tidak pernah beres bikin anak-anak seposko kesal dan emosi (KORSEK). Yang punya masalah tiap hari sama pacarnya (RAHMAT). Yang punya gaya tidur sangat unik dan tiap paginya saya bangunkan dengan tongkat sapu (ARIF). Yang tiap saat nonton anime dan sering ngambil headset saya diam-diam (AL). Kalian semua luar biasa.

Untuk adik-adikku SMA Negeri 1 Watansoppeng

Untuk yang menyapa saya tiap malamnya. Untuk yang terkadang menyapa saya. Yang ngasih like n coment di status FB saya. Yang menandai saya foto di Instagram. Yang terkadang BBM saya. Yang terkadang SMS saya. Yang jarang saya sapa dan sangat sering saya sapa -_-“ :p . Untuk semuanya. Terima kasih banyak dek. Terima kasih sudah menyapa saya. Terima kasih dengan perhatian kalian. Terima kasih dengan rindu yang kalian ucapkan. Hanya berharap sapaan kalian bukan hanya saat-saat ini saja.  I MISS U SO MUCH. :’(

Kamis, 20 November 2014

Kenangan Terindah

“Jadikan ini perpisahan yang termanis, yang indah dalam hidupmu, sepanjang waktu. Semua berakhir tanpa dendam dalam hati, maafkan semua salahku yang mungkin meyakitimu”
Tidak ada lagi alarm pukul 05.00 WITA yang terbunyi. Tidak ada lagi suara aneh yang terdengar saat saya terbangun . Tidak ada lagi panggilan “Lebba” dan colekan menggelikan dari mereka saudara sekamar 3 bulan ini (Sri dan Ulfa). Tidak ada lagi orang yang bisa saya ajak bertengkar tiap harinya karena wajahnya yang begitu menjengkelkan tapi begitu dirindukan (Husnia). Tidak ada lagi dia yang selalu menjadi orang tua tunggal kami (Fitri). Tidak ada lagi dia yang dengan ekspresi lucunya sambil garuk-garuk kepala (DD). Tidak ada lagi dia yang sering membuat kami tertawa karena kelinglungannya (Riska). Tidak ada lagi mereka yang tiap pagi membuat saya tertawa sendiri karena melihat gaya lucu mereka tertidur (Arif dan Darwis). Tidak ada lagi dia yang sering memukul saya begitu kerasnya padahal badannya jauh lebih kecil dari saya (Farah). Tidak ada lagi dia yang tiap hari membuat hati dan pikiran emosi karena perkataannya (Korsek/Khaerul). Tidak ada lagi dia yang sering memanggil saya “kak Lina” di posko walaupun kami seumuran (AL). Tidak ada lagi dia orang yang bisa tidur 24 jam walaupun teman kelas tapi keakraban saya dengan dia jauh lebih baik di posko dari pada di dalam kelas (Reni). Tidak ada lagi yang membuat 1 posko jengkel dengannya (Ita). Dan tidak ada lagi intipan tiap kamar dari seorang anak berumur 1 tahun yang begitu lucu dan begitu menghibur kami (Khansa).

Tidak ada lagi anak laki-laki yang pertama mencubit kedua pipi dan hidung saya yang tiap malamnya datang ke posko untuk belajar (Wira). Tidak ada lagi anak yang begitu cerewet tiap ketemu pasti tertawa dan minta ditraktir (APS). Tidak ada lagi anak yang mengirimkan saya VN lagu terindah “Perpisahan Termanis” dengan suara lembutnya (Anti dan Nauval). Tidak ada lagi anak yang pernah membuat saya begitu terharu mendengar perkataanya “Saya adiknya kak Lina” (Entah dia ingat atau tidak) di depan TU (Huda’). Tidak ada lagi anak yang tiap 3S dan ketemu mencium tangan saya di bibirnya, kedua pipinya dan kembali dengan bibirnya (Emmy). Tidak ada lagi anak yang bicaranya begitu cepat dan terkadang membuat saya tidak mengerti dengan perkatannya tapi tetap bisa membuat saya tersenyum mendengarnya bercerita (Euis). Tidak ada lagi anak yang awalnya terkesan begitu nakal tapi ternyata asik dan juga berekspresi lucu (Rendra). Tidak ada lagi anak yang pada awalnya juga terkesan begitu nakal dan cuek tapi akhir-akhir perjalanan KKN, sering memperlihatkan senyum manisnya dan sapaan lembutnya (Uco). Tidak ada lagi anak yang yang memanggil saya “Kak Lina Akbar” (Akbar). Tidak ada lagi anak yang pernah berkomentar tentang cara mengajar saya agar lebih memperhatikan baris paling belakang (Syahrul). Tidak ada lagi anak yang dengan wajah polosnya begitu ingin diperhatikan tiap belajar fisika  (Asyraf). Tidak ada lagi anak yang begitu ingin saya akrabi dan ajar (Indira Ashari). Tidak ada lagi anak yang wajahnya begitu mirip dengan adik saya di Fisika (Risma) dengan ekspresi datarnya dan sangar jarang tersenyum (Ita). Tidak ada lagi anak yang membuatkan saya doodle yang begitu indah (Reri). Tidak ada lagi anak yang tiap siang datang tidak diundang pulang tidak bilang-bilang dan tiba-tiba mengagetkan saya (Indri). Tidak ada lagi panggilan “Kak Lina, Kak Vividity, Kak Linlin, Kak Lilin” dari mereka (X MIA 1, X MIA 2, XI MIA 1, XI MIA 2, XI MIA 4, XI MIA 5). Maaf jika tidak sempat memberikan deskripsi masing-masing siswa.

Dan seorang anak lagi yang membuat kesedihan saya bertambah saat mengingat Soppeng. Seorang anak yang ingin saya kembali ke Soppeng di Hari Ulang tahunnya nanti (12 April 2015). Seorang anak yang tiap malam menemani saya di BBM. Seorang anak yang tiap hari ingin saya lihat di sekolah.  Seorang anak yang sampai sekarang belum memberikan saya pesan dan kesannya. Seorang anak yang membuat air mata saya bertambah deras saat menuliskan ini. Sisca.

Yah. “Tidak ada lagi”. 3 kata yang mewakili perasaan saya saat ini. Mereka ada, tapi tidak lagi menjadi bagian dari hidup saya sehari-hari. Mereka ada, tapi mungkin tidak lagi mengingat saya. Mereka ada, tapi tidak lagi sedekat 3 bulan kemarin. Mereka ada tapi tidak lagi bisa melihat senyum mereka. Mereka ada tapi tidak lagi mendengar panggilan kakak dari mereka.

Seharian di kamar kost, saya hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa. Tubuh ini terasa kaku untuk bergerak. Bukan karena lelah fisik, tapi lelah pikiran. Lelah dengan sebukit kenangan terindah yang selalu saja terpikirkan. Semangat saya seperti tertinggal di kota itu, Soppeng.

Ingin kembali ke masa-masa itu. Bangun pagi jam 5 dengan udara yang begitu dingin, mandi, shalat dan membangunkan mereka dengan tusukan tongkat sapu. Berteriak “Bangun, Bangun, Bangunki semua weee, sapa 3S ini hari?”. Saling berpapasan menciptakan rasa kaget di pagi hari. Berjalan tiap pagi menelusuri lorong dengan batu-batu kecil dan jalan yang menanjak hanya untuk mendahului Kepala Sekolah. Memberi Salam, Melemparkan Senyum, dan Menyapa (3S) mereka adik-adik yang begitu saya rindukan (sampai sekarang, genggaman tangan 3S mereka yang begitu dingin masih begitu terasa). Duduk di ruang guru menunggu jam mengajar tiba sambil menyeduh teh buatan Pak D (sesekali selfie dan membuat gosip tentang si Kerudung Merah :D). Berdiri di depan ruang guru hanya untuk menatap jauh mereka (Siswa-siswa saya). Tiap hari Senin sehabis upacara, menghabiskan waktu duduk di depan ruang guru menyaksikan mereka berolahraga. Sesekali menelusuri jalan tepat depan kelas mereka sambil melemparkan senyum menuju kantin paling belakang. Dan selalu berharap waktu begitu lama berputar saat mengajar agar bisa lebih lama menatap mereka.

Pulang ke sekolah dan kembali melihat saudara-saudara saya. berlomba turun ke dapur hanya untuk segelas Es Buah. Mendengar keluhan “paaaannnaaaassss” dari mereka. Bermain dengan cucu ibu posko. Bertengkar mulut dengan mereka. Makan bersama dengan penuh tawa dan canda. Seperti kelelawar yang berkeliaran di malam hari, menelusuri Jl. Kesatria menuju pusat kota (Panker, Pusper, dan Indomart). Hufft. Sungguh sesak memikirkan semua itu Ya Allah. :’(

Kini semuanya telah kembali. Kembali ke rutinitas masing-masing sebelum 3 bulan itu. Berada di kota padat yang panas dan penuh polusi, Makassar. Sendiri menatap dinding kamar kecil yang begitu sepi. Menginjakkan kaki di gedung biru yang kini telah mengalami perubahan yang banyak. Mendengar sapaan dari junior-junior yang katanya merindukan saya (dan itu pula menjadi pengobat rasa rindu ke siswa-siswa saya). Kembali meratap sepi mengenang hal terindah selama 3 bulan ini. Syukurlah, sapaan tidak henti-hentinya mereka suarakan lewat jejaring sosial (BBM, FB, bahkan Instagram), walaupun terkadang membuat saya tertawa dan tersenyum menangis. Berharap sapaan itu terus ada hingga tiba waktunya saya kembali ke kota itu tahun depan. InshaAllah.

Terima kasih yang sangat banyak saya kirimkan kepada Sang Pengatur Takdir. Terima kasih mempertemukan saya dengan mereka. Terima kasih telah menciptakan kenangan terindah selama 3 bulan ini. Kelak, di waktu yang berbeda dan gelar yang berbeda (S1), saya ingin kembali ke kota itu, kota yang saat ini begitu saya rindukan. Berharap kembali ke situasi itu, masa-masa KKN-PPL kami. Tapi mustahil, cukup berharap bisa kembali bersama-sama di Kota Kalong itu. Bercerita tentang kenangan terindah kami selama 3 bulan. I MISS U ALL. :’)
Terkhusus kepada Kepala SMA Negeri 1 Watansoppeng. Terima kasih banyak sudah memperlihatkan kedisiplinan yang nyata kepada kami Pak. Terima kasih untuk pelukan pertama dan terakhir yang begitu hangat dari bapak. :’)


“Karena setiap pertemuan akan berujung perpisahan..
Dan setiap perpisahan akan menciptakan pertemuan baru..
Berharap kenangan indah ini tetap ada di hati dan pikiran kita..
Salam rindu dan sayang untuk kalian semua..


Kenangan terindah saya..”