Welcome ^_^

Jumat, 22 Januari 2016

21 Januari 2016

Banyak orang dalam kehidupan saya. Beberapa dari mereka semakin mendekat, beberapa dari mereka semakin merasa bosan dan menjauh (entah, mungkin itu hanya perasaan saya saja atau memang nyata). Untuk beberapa saat saya merasa benar-benar kehilangan. Tapi, kemudian saya tersadar bahwa hanya karena seseorang, saya kehilangan kesempatan untuk mengenal lebih jauh mereka yang mendekat.

Beberapa hari terakhir, merasa sangat dilupakan oleh mereka yang selalu saya perhatikan. Disisi lain, saya merasa sangat bersyukur dan beruntung karena mendapatkan banyak perhatian dari banyak orang yang sama sekali tidak pernah saya perhatikan. Mungkin memang masanya. Masanya saya dan mereka adalah beberapa tahun yang lalu. Waktu itu semuanya cukup sederhana. Sapaan yang yang sering terdengar tanpa harus menunggu. Begitu juga dengan cerita pribadi mereka yang tiba-tiba dikatakan tanpa harus saya minta. Yah, sangat sederhana tapi menjadi hal yang sangat saya rindukan saat ini.

Masanya mulai berubah. Saya hanya bisa menunggu dan sesekali atau bahkan seringkali menyapa mereka duluan. Yah, karena perasaan saya mengalahkan logika saya.

Rabu, 23 September 2015

Merasa

Adakah perkenalan tanpa pertemuan? Adakah rasa rindu tercipta tanpa pernah sekalipun melihat satu sama lain? Adalah rasa gugup seketika membayangkan seseorang yang tidak pernah bertatap muka berada dalam bayang-bayang masa depan yang begitu cerah? Adakah rasa cinta yang hanya mengetahui sepihak?

 “Tak kenal maka tak sayang”. Sebuah pepatah yang sudah sangat sering terdengar di telinga kita. Seseorang menjalin hubungan berawal dari sebuah pertemuan. Dari pertemuan itu, mereka saling berkenalan satu sama lain. Mengetahui pribadi luarnya hingga pribadi yang disembunyikan. Membuatnya berada dalam jalinan pertemanan, persahabatan, persaudaraan atau bahkan hubungan yang sampai saat ini banyak orang lakukan “Pacaran”.

 Rindu hanya akan tercipta saat seseorang berada dalam suatu hubungan seperti yang saya sebutkan di atas. Rasa gugup yang membuat senyum tercipta membayangkan hal-hal indah bersama mereka. Kasih sayang yang perlahan-lahan mulai tumbuh ketika mengenal lebih jauh tentang mereka dan juga air mata yang tercipta karena takut kehilangan.

 Bagaimana halnya jika seseorang jatuh cinta dengan senyuman dalam layar 2 dimensi? Adakah cinta yang benar-benar rasa hanya karena melihat seseorang dalam suatu kemayaan?

 Dia benar-benar ada. Dia begitu dekat. Dia punya hubungan yang sampai kapanpun tidak bisa dipisahkan dengan seseroang yang sangat saya kenal. Lahir di kota yang sama. Namun, tidak sekalipun pernah meilihatnya secara langsung. Dia yang hanya bisa saya liat dalam kemayaan.

 Untuknya yang begitu asing. Saya selalu berharap, Sang Pencipta menakdirkan pertemuan itu.

Senin, 21 September 2015

Part 1 - If You Know That


Lambat Loading atau yang biasa disingkat "Laload" sudah sangat sering terdengar dalam keseharian saya. Sebutan itu biasanya ditujukan untuk orang-orang yang sangat lamban melihat situasi di sekitar ataupun menangkap inti dari percakapan sehari-hari (hilang konsentrasi/kefokusan).

Sebutan itu sering ditujukan kepada saya sejak memasuki dunia perkuliahan. Hal itu sudah sangat sering menjadi bahan ejekan teman-teman kepada saya saat sedang membicarakan sesuatu. Hal yg sudah sangat biasa tapi juga membingungkan untuk saya. Seringkali saya bertanya-tanya "Kenapa bisa?"

Beberapa jam yang lalu sebelum saya menuliskan ini, saya mencari beberapa informasi tentang gangguan pemusatan perhatian dan konsentrasi. Beberapa indikator sangat cocok dengan keadaan yang saya alami tapi ada beberapa yang saya harap sangat tidak sesuai dengan pribadi saya.

Beberapa kali saya mencoba untuk benar-benar fokus dengan pembicaraan teman-teman, tapi ujung-ujungnya selalu bertanya "apa tadi?" "maksudnya"? Atau tiba-tiba menghilang dari pembicaraan.

Entahlah, saya menganggap hal itu sangat biasa dan cukup bersyukur karena laload.nya saya tidak muncul saat sedang kuliah ataupun belajar. Hal itu hanya terjadi ketika saya berbincang secara langsung dengan orang.

Itulah kenapa percakapan dalam tulisan menjadi sangat berharga buat saya. Betapa sulitnya mengingat hal-hal yang mereka katakan kepada saya secara langsung. Dan betapa senangnya disaat saya bisa kembali membaca percakapan dengan mereka.

Sabtu, 03 Januari 2015

3 Januari 2015 Kemalasan

Salah satu musuh manusia yang paling berat dilawan adalah kemalasan dan hanya ada satu cara untuk membasmisnya yaitu dengan kebiasaan rajin. Hahaha. :D

Saat ini saya berada di puncak tertinggi dari kemalasan itu. Sama halnya jika kita berada di puncak tertinggi sebuah pegunungan yang begitu indah, seakan tak ingin kembali. Cuaca yang begitu mendukung untuk terus menerus memeluk bantal didalam selimut sementara disamping saya terletak sebuah benda yang sangat familiar bagi seorang mahasiswa. Laptop yang masih menyala sedari tadi dengan tampilan file presentasi proposal yang sudah kelar sejak kemarin namun belum dipelajari. Kemalasan menghabiskan waktu belajar saya.

But, i’ve to back now. Bangun dan membasahi seluruh tubuh untuk menghapuskan kemalasan itu. Mengambil posisi ternyaman untuk belajar mempresentasikan penelitian ini dalam bahasa Inggris (dan inilah yang membuat saya gila). Sesaat kemalasan mulai menghilang, kelaparan mendatangi saya. Persediaan makanan untuk seorang mahasiswa kost-kostan yang sudah habis membuat kefokusan saya terganti dengan kegelisahan. Hujan yang sejak semalam menjatuhi bumi sektor parangtambung (atau mungkin sekota Makassar) membuat saya harus berdoa agar berhenti sejenak “Ya Allah, hanya 5 menit. Please” (untuk mencari makan diluar).

Perut terisi dan berusaha kembali untuk fokus. Hanya beberapa menit menghafalkan kalimat presentasi saya, lagi dan lagi kemalasan menyapu lembut mata dan rambut saya hingga tertidur di atas lantai dingin. Sungguh sulit melawan kemalasan itu bukan?

Suara adzan membangunkan saya. Kemalasan itu ternyata kalah jauh dari niat saya untuk bersujud kepadaMu Ya Allah. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan saya beberapa bulan terakhir ini. Yah, semenjak KKN-PPL itu, saya sudah mulai membiasakan diri untuk shalat tepat waktu. Alhamdulillah. J


Malampun tiba, masih dalam kondisi yang sama; duduk di depan laptop sambil dengar musik dipadu dengan suara hujan. Kemalasan benar-benar menguasai saya hari ini. Sadar tapi masih belum sanggup melawan kemalasan itu. Berharap besok jauh lebih baik. Aamiin.

Jumat, 02 Januari 2015

2 Januari 2015 Ingin Pulang

Ketika tak satupun orang yang dapat mengerti perasaanmu, yang bisa dilakukan adalah cukup tersenyum.

2 Januari 2015. Kalian takkan pernah tau rasanya bagaimana menjalani hari seakan menjadi orang yang tersibuk. “I can do anything. I can be anything.” Saya pernah mengatakan hal seperti ini di status saya. Bagaimanapun komentar orang-orang terhadap saya, I dont care. Bukankah saya akan lebih bahagia dari mereka. Bukankah saya menjadi sorotan utama dalam kehidupan ini. Yah, karena saya adalah pemeran utama dalam kehidupan saya sendiri. Begitu juga dengan kalian, kalian pemeran utama dalam kehidupan kalian.

Hari ini tidak ada yang begitu spesial. Melalui pagi di jurusan Fisika tercinta, tepatnya di Perpustakaan.  Jurusan masih sangat sepi, efek libur tahun baru. Menghabiskan waktu bercerita, tertawa, dan mengerjakan proposal bersama sahabat saya. Setelah shalat Jumat tiba, saya memutuskan untuk pulang.

Di ruang kecil tempat saya selama 3 tahun lebih beradu dengan pikiran dan perasaan saya sendiri, saya mulai merasa sangat merindukan keluarga yang jauh disana. Sendiri di kota ini tanpa sandaran disaat saya begitu lelah, tanpa teriakan dari Mama, tanpa perselisihan dengan kakak, dan tanpa senyuman dari Bapak. Sangat merindukan mereka.

“Ma, Im so stress Ma. Really stress. Ada saatnya dimana saya benar-benar jenuh dengan keadaan saya sekarang Ma. Rasa-rasanya seperti sendiri di dunia ini. Disaat saya sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir perkuliahan saya, ada saja keinginan saya untuk mengakhiri semuanya dengan cepat Ma. I really miss you Ma.  Mereka yang tiap hari memberi saya semangat karena sapaan dan senyum mereka, mulai sangat jarang saya dengar dan temui Ma, dan now I really need you. I wanna go home. Kota ini  benar-benar asing buat saya Ma. Saya merajinkan diri pergi ke kampus hanya untuk mencari keramaian di sekitar orang-orang berpendidikan dan berharap mendapatkan semangat dengan hanya melihat mereka. Setiap hari memasuki gedung itu dengan penuh senyuman semangat luar biasa menyelesaikan kewajiban saya Ma, begitu juga dengan hari ini. But something make me down. Mereka yang tiap hari menjadi penyemengat buat saya perlahan hilang. Sebelumnya tidak seorangpun yang tau begitu pun juga Mama, bahwa selain dari kalian (keluarga saya), saya menemukan semangat untuk mengerjakan semuanya dari mereka. Betapa pentingnya sapaan mereka buat saya Ma, yah karena mereka saat ini yang terdekat dengan saya. Melihat mereka pun sudah membuat saya begitu bersemangat. Tapi sekarang semuanya beda. Kemarin, saya masih sempat berharap ini semuanya adalah candaan mereka. Tapi sekarang sudah tidak lagi Ma. Candaan ataukah memang begitulah kenyataannya, saya sudah menghapus mereka sebagai salah satu orang-orang yang begitu penting buat saya. Dengan mudahnya? Iya, karena mereka melakukan ini disaat saya benar-benar membutuhkan mereka Ma. I really need them. I really miss. But they doesnt care more.

Rabu, 31 Desember 2014

Happy New Year 2015



Musik kembali mengiringi hariku. Kali ini hariku sangat kurang karena shalat yang mengawali hari terbaikku terlupakan. Godaan syetan ternyata begitu kuat di akhir tahun ini. Yah, 31 Desember 2014. Hari terakhir di tahun yang penuh kenangan buatku.  Sejak kemarin, aku merasa sangat sulit untuk menuliskan ini semua. Namun, tiba-tiba hari ini terasa sangat mudah bagi jari-jariku untuk menyalurkan apa yang kurasakan dan kupikirkan.

2014. Perjalanan yang terasa panjang di tahun ini padahal memiliki jumlah hari yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Semua karena banyaknya kenangan terindah yang tercipta di dalamnya.  Di angka ini, aku dipertemukan dengan banyak orang yang luar biasa. Di angka ini, aku menemukan banyak pelajaran yang begitu bermanfaat. Di angka ini, aku lebih memahami arti kerinduan dan ketulusan. Di angka ini, aku belajar untuk lebih banyak bersyukur kepadaNya.

Dimulai dari Januari 2014. Bulan itu adalah bulan kelahiranku, tepatnya 11 Januari 2014 aku berumur genap seperlima abad. Banyak kebahagiaan yang mengiringi usiaku waktu itu. Dari sahabat dan juga junior –junior yang sampai sekarang sangat akrab denganku. Mereka memberikan sejuta senyuman di bulan itu. Februari, Maret, April, dan Mei menjadi bulan-bulan yang penuh dengan kesibukan sebagai mahasiswa semester 6. Berbagai tugas silih berganti membuat begadang dan galau. Terlebih untuk mata kuliah Microteaching. Memasuki bulan Juni, aku dan teman-teman seangkatan sudah mulai disibukkan dengan pengurusan berkas untuk mengikuti KKN-PPL terpadu. Banyak cobaan untuk sampai di jalan itu salah satunya adalah pengurusan dengan dosen Microteaching yang begitu tegas. Hanya untuk meminta tanda tangannya saja harus sampai jam 10 malam di jurusan. Tapi, harus percaya bahwa usaha tidak mungkin berkhianat. Terbukti, dengan tiba saatnya aku dan teman-teman angkatan 2011 UNM megikuti pembekalan KKN-PPL.

Bulan puasa di bulan Juli 2014 sungguh tidak terasa. Bulan itu, rasa penasaran menyelimutiku tentang penempatan KKN-PPL nantinya. Dalam beberapa hari pengumuman penempatan pun keluar. Harapanku yang dulu agar penempatanku ada di Bone sudah tidak mungkin karena Bone tidak termasuk di salah satu  penempatan KKN-PPL UNM. Bahagia dan kecewa ketika mengetahui Soppeng adalah tempat KKN-PPL ku nantinya. Bahagia karena bisa satu daerah dengan 3 orang sahabatku. Tapi kecewa, karena hanya aku seorang diri yang terpisah posko dari mereka.

Hari besar umat Islam pun berlalu dengan penuh senyum dan hati yang kembali suci, InshaAllah. 1 minggu setelah itu, aku harus kembali ke Makassar untuk mengikuti Pembekalan Khusus KKN-PPL Terpadu daerah Soppeng. Disitu, aku mulai mengetahui teman-teman posko yang akan menjadi keluarga selama 3 bulan di Soppeng. Kesan pertama melihat mereka yang hanya berdiam diri dengan kelompoknya masing-masing tanpa senyum dan saling memperkenalkan diri. Melihat posko lain yang begitu mudahnya saling mengakrabkan diri, dalam hati kecewa aku berkata “Ya Allah, bisakah saya bertahan bersama mereka selama 3 bulan ke depan?”.

16 Agustus 2014, pemberangkatan Mahasiswa KKN-PPL UNM Daerah Soppeng. Ini pertama kalinya aku menghirup udara Soppeng. Hujan dan udara sejuk menyapa kami saat tiba di Kota Kalong itu, Watansoppeng. Sehari, 2 hari hingga hari-hari berikutnya, ternyata hanya butuh sedikit waktu untuk membuat kami semua berbaur dan terbuka. Persaudaraan kami pun semakin terasa dan membuatku semakin menyukai dan bersyukur mengenal mereka. 1 bulan, 2 bulan dan akhirnya tibalah di tanggal 15 November 2014. Sebuah hari perpisahan untuk kami. Untuk aku dan teman-teman poskoku. Untuk aku dan guru-guru SMAN 1 Watansoppeng. Untuk aku dan kalian (siswa-siswaku yang begitu kurindukan hingga kini). Kalian tau? Hari itu adalah hari yang begitu menyedihkan buatku selama tahun 2014 ini. Aku berharap waktu bisa lebih lama lagi. Aku berharap sehari bukan 24 jam, tapi lebih lama dari itu. Aku masih sangat ingin bersama dengan kalian. Mengajar kalian, tertawa dengan kalian, bermain dengan kalian dan berfoto selfie dengan kalian.

Hari-hari setelah meninggalkan kota Kenangan Terindah itu juga sangat menyedihkan buatku. Kebiasaan-kebiasaan selama 3 bulan di Kota itu ternyata tidak bisa kulakukan di Kota Daeng ini. I miss u so much. Sampai saat beberapa teman-teman poskoku kembali ke kota itu, aku hanya bisa menitip rindu ke siswa-siswaku. “maaf, tidak bisa mengunjungi kalian. salam sayang untuk kalian”.

Memasuki bulan Desember 2014, galau, pusing, stress, dan penuh dengan keluhan. Beginilah nasib mahasiswa semester akhir. Target dan planning yang melayang-layang di atas kepala. “Bisaji kah ini??” Pertanyaan yang tiap hari hadir. Penyusunan Tugas Akhir (Skripsi) menjadi topik tiap harinya bersama teman-teman seangkatanku. Perpustakaan jurusan Fisika adalah tempat favoriteku saat ini untuk bergosip, mengenang masa lalu, sambil berdiskusi tentang Proposal Penelitian.

Menuju hari ini, detik ini, godaan Syetan semakin kuat di akhir tahun ini. Saat ingin benar-benar fokus mengerjakan proposal, mereka terus-terusan mengosongkan perutku (lapar terus). Setelah perut terisi, mereka kembali mengelus-elus lembut kepalaku seakan meninabobokanku sampai-sampai beberapa kali aku harus tertidur di lantai. Dan ini kali ketiga aku terbangun di hari terakhir 2014 ini. Hanya berdiam diri di kost bersama laptop dan HP dan juga mereka (bantal2 kesayangan).

Malam pun tiba. Suara petasan tiap detik terdengar. Masih berada di ruangan ini. Nada BBM pun tak henti-hentinya menyapa gendang telingaku. Sesekali kualihkan pandangan dari layar laptop ke layar HP. Membuka BBM, Path dan Facebook. Semua tentang perayaan Tahun Baru. Malam Tahun Baru terbilang sangat biasa buatku. Bagi kebanyakan orang perayaan Tahun Baru mungkin harus sangat meriah. Tapi tidak denganku. Harapanku di malam tahun baru adalah hanya bisa bersama dengan keluarga. Tapi karena tidak mungkin, aku hanya bisa memanfaatkan malam ini dengan menulis dan mengerjakan proposal penelitianku. Mereview proposal hidup, target dan impian mungkin lebih baik dari pada keluyuran di malam hari bersama kemacetan dan polusi. Tiap mendengar bunyi petasan membuatku berpikir bahwa mereka semua sungguh tidak berpikir. Mereka membakar uang hanya untuk kesenangan semalam disaat banyak orang yang mengemis makan untuk bertahan hidup. Ya Allah sadarkan mereka. (Bukan sok, hanya saja mengajak kalian untuk melihat realita kehidupan orang-orang bawah).

Detik terus berganti. Keadaan sedetik yang lalu tidak akan pernah terulang. 2014 mengisahkan banyak kenangan terindah yang mustahil terulang. Dia hanya bisa ada dalam ingatan. Akan banyak orang-orang baru yang akan menghampiri kehidupan kita di 2015 nanti. Kesalahan-kesalahan apapun yang terjadi di tahun ini jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri kita di tahun 2015 esok dan seterusnya.

Terima kasih untuk kalian yang memberikan banyak pelajaran hidup untukku di tahun 2014 ini. Semoga tahun berikutnya, 2015 menjadi waktu-waktu terbaik untuk kita melakukan pekerjaan yang luar biasa dan bermanfaat. Memberikan banyak kebahagiaan untuk diri kita dan orang lain terutama keluarga. Bertemu dengan mereka yang dirindukan. Meraih gelar dari perjuangan selama 4 tahun dan menjadi orang yang lebih terpelajar. Aamiin.


Selamat Tahun Baru 2015. Bagaimanapun bentuk perayaannya, selalu ingat malaikat Allah selalu bersama kita, mencatat setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan.

Minggu, 23 November 2014

Selamanya

Seminggu sudah saya meninggalkan kota Kalong. Namun, rasa itu masih saja sama saat hari pertama berada di Kota Daeng ini, nyesekkkkk. Mengingat hal-hal yang telah dilalui selama 3 bulan bersama orang-orang yang awalnya asing banget menjadi begitu dekat seperti saudara. Tiap malam menjatuhkan air mata hanya karena mengingat kenangan indah bersama mereka dan juga puluhan bocah putih abu-abu SMA Negeri 1 Watansoppeng.

Sapaan mereka terdengar lewat pemberitahuan BBM dan Facebook saya tiap malamnya. Itu juga menjadi hal yang membuat rindu saya ke mereka bisa terobati. Walaupun saya masih begitu berharap bisa berkumpul bersama seperti masa-masa 3 bulan itu. Satu hal yang begitu saya sesalkan adalah kenapa keakraban saya dengan siswa-siswa saya baru terasa saat ini. Kenapa keakraban saya dengan mereka tercipta lewat media sosial. Padahal seringkali di sekolah ketika berpapasan mereka hanya tersenyum tanpa menyapa. Yah, itu SEBAGIAN dari siswa kelas 2 yang saya ajar.

Menempel kesan pesan kalian di ruangan saya. menjadikan foto-foto kalian slide show di desktop background laptop saya. Mendengarkan “vn” tiap hari (2 orang dari kalian) yang kalian kirimkan ke saya beberapa hari menjelang penarikan. Chat dengan kalian. Seharusnya hal-hal itu yang harus saya hindari supaya saya terbiasa tidak merindukan kalian. Tapi ada saja yang membuat saya melakukan semua itu. Hufft.

HP yang mulai sering lowbat karena grup “KKN-PPL Posko SMAN 1 WTSP” di BBM yang berisiknya tiap waktu.
K H A E R U L           : “Absen dulu”
Mitra Paradiba           : “Raisa hadir”
Husnia Arfan II         : “Zaskia Sungkar hadir”
Sry Asriani M.Nasir    : “LCB hadir  (Laudya Cyntia Bella)”
Nurlina Vividity          : “Nagita Slavina hadir dong”
Riska                      : “Maaf ya Donita baru hadir”
Fitriah Artina II        : “Fitri manis hadiratun”
HD                        : “Maudy hadir”
Muh. Arif                : “Afgan hadir”
Hahaha. Katanya sih posko artis. Over. :p Terima kasih dengan candaan kalian di grup. Sungguh sangat menghibur. Memiliki saudara seposko seperti kalian adalah suatu hal yang sangat saya syukuri sampai saat ini. Saya selalu bahagia menceritakan kalian semua ke teman-teman dan sahabat kuliah saya. Selalu berkata ke mereka “Bersyukurka seposko dengan mereka. Bersyukur bisa berada di SMA Negeri 1 Watansoppeng”. Dan sekali lagi rasa syukur itu justru membuat air mata saya mengalir. I miss U .

Banyak senior yang berkata seperti ini kepada saya “Sementara ji itu nyesekta dek, nanti juga bakalan dilupaji mereka karena sibuk maki urus skripsita. Dan mereka juga bakalan lupaji sama kalian. Janganmi terlalu mendramatisi sesuatu dek. Begitu ji memang”.
Huffftt. -_-“ Iyakah? Seperti itukah nantinya? Entahlah.

Untuk saudaraku Posko SMA Negeri 1 Watansoppeng
Kalian tau, saya juga tau kalau selamanya kita tidak akan pernah bisa melupakan hal-hal yang telah dilalui bersama-sama 3 bulan kemarin. Saya tidak perlu bilang atau meminta “Jangan pernah lupakan saya”.  Karena sudah sangat jelas, kalian tidak akan pernah bisa melupakan saya. iyyakan? (Hahaha. Over Confidence kan? Tapi itu pasti). Karena saya sendiri tidak akan pernah bisa melupakan karakter kalian masing-masing. Yang selalu ngajakin berantem dan wajahnya membuat seposko begitu kesal (HUSNI). Yang badannya kecil tapi pukulannya dan sindiriannya keras (FARAH). Yang menjadi orang tua tunggal terbaik untuk saya dan 13 saudara saya lainnya, ngoceh tiap hari (FITRI). Yang sudah meninggalkan bekas luka di belakang saya karena ditendang pas kerasukan dulu (RISKA). Yang sering garuk-garuk kepala dan punya mata ngantuk mirip saya (DD). Yang tiap hari panggil saya “Lebba” (SRI). Yang tiap detik telfonan sama pacar bawa HP ke kamar mandi (ULFA). Yang kompakan sama saya (RENI). Yang suka marah (ITA). Yang orangnya kocak tapi ternyata sangat cengeng (DARWIS). Yang kata-katanya selama 3 bulan tidak pernah beres bikin anak-anak seposko kesal dan emosi (KORSEK). Yang punya masalah tiap hari sama pacarnya (RAHMAT). Yang punya gaya tidur sangat unik dan tiap paginya saya bangunkan dengan tongkat sapu (ARIF). Yang tiap saat nonton anime dan sering ngambil headset saya diam-diam (AL). Kalian semua luar biasa.

Untuk adik-adikku SMA Negeri 1 Watansoppeng

Untuk yang menyapa saya tiap malamnya. Untuk yang terkadang menyapa saya. Yang ngasih like n coment di status FB saya. Yang menandai saya foto di Instagram. Yang terkadang BBM saya. Yang terkadang SMS saya. Yang jarang saya sapa dan sangat sering saya sapa -_-“ :p . Untuk semuanya. Terima kasih banyak dek. Terima kasih sudah menyapa saya. Terima kasih dengan perhatian kalian. Terima kasih dengan rindu yang kalian ucapkan. Hanya berharap sapaan kalian bukan hanya saat-saat ini saja.  I MISS U SO MUCH. :’(