Kamis, 20 November 2014

Kenangan Terindah

“Jadikan ini perpisahan yang termanis, yang indah dalam hidupmu, sepanjang waktu. Semua berakhir tanpa dendam dalam hati, maafkan semua salahku yang mungkin meyakitimu”

Tidak ada lagi alarm pukul 05.00 WITA yang terbunyi. Tidak ada lagi suara aneh yang terdengar saat saya terbangun . Tidak ada lagi panggilan “Lebba” dan colekan menggelikan dari mereka saudara sekaQmar 3 bulan ini (Sri dan Ulfa). Tidak ada lagi orang yang bisa saya ajak bertengkar tiap harinya karena wajahnya yang begitu menjengkelkan tapi begitu dirindukan (Husnia). Tidak ada lagi dia yang selalu menjadi orang tua tunggal kami (Fitri). Tidak ada lagi dia yang dengan ekspresi lucunya sambil garuk-garuk kepala (DD). Tidak ada lagi dia yang sering membuat kami tertawa karena kelinglungannya (Riska). Tidak ada lagi mereka yang tiap pagi membuat saya tertawa sendiri karena melihat gaya lucu mereka tertidur (Arif dan Darwis). Tidak ada lagi dia yang sering memukul saya begitu kerasnya padahal badannya jauh lebih kecil dari saya (Farah). Tidak ada lagi dia yang tiap hari membuat hati dan pikiran emosi karena perkataannya (Korsek/Khaerul). Tidak ada lagi dia yang sering memanggil saya “kak Lina” di posko walaupun kami seumuran (AL). Tidak ada lagi dia orang yang bisa tidur 24 jam walaupun teman kelas tapi keakraban saya dengan dia jauh lebih baik di posko dari pada di dalam kelas (Reni). Tidak ada lagi yang membuat 1 posko jengkel dengannya (Ita). Dan tidak ada lagi intipan tiap kamar dari seorang anak berumur 1 tahun yang begitu lucu dan begitu menghibur kami (Khansa).

Tidak ada lagi anak laki-laki yang pertama mencubit kedua pipi dan hidung saya yang tiap malamnya datang ke posko untuk belajar (Wira). Tidak ada lagi anak yang begitu cerewet tiap ketemu pasti tertawa dan minta ditraktir (APS). Tidak ada lagi anak yang mengirimkan saya VN lagu terindah “Perpisahan Termanis” dengan suara lembutnya (Anti dan Nauval). Tidak ada lagi anak yang pernah membuat saya begitu terharu mendengar perkataanya “Saya adiknya kak Lina” (Entah dia ingat atau tidak) di depan TU (Huda’). Tidak ada lagi anak yang tiap 3S dan ketemu mencium tangan saya di bibirnya, kedua pipinya dan kembali dengan bibirnya (Emmy). Tidak ada lagi anak yang bicaranya begitu cepat dan terkadang membuat saya tidak mengerti dengan perkatannya tapi tetap bisa membuat saya tersenyum mendengarnya bercerita (Euis). Tidak ada lagi anak yang awalnya terkesan begitu nakal tapi ternyata asik dan juga berekspresi lucu (Rendra). Tidak ada lagi anak yang pada awalnya juga terkesan begitu nakal dan cuek tapi akhir-akhir perjalanan KKN, sering memperlihatkan senyum manisnya dan sapaan lembutnya (Uco). Tidak ada lagi anak yang yang memanggil saya “Kak Lina Akbar” (Akbar). Tidak ada lagi anak yang pernah berkomentar tentang cara mengajar saya agar lebih memperhatikan baris paling belakang (Syahrul). Tidak ada lagi anak yang dengan wajah polosnya begitu ingin diperhatikan tiap belajar fisika  (Asyraf). Tidak ada lagi anak yang begitu ingin saya akrabi dan ajar (Indira Ashari). Tidak ada lagi anak yang wajahnya begitu mirip dengan adik saya di Fisika (Risma) dengan ekspresi datarnya dan sangar jarang tersenyum (Ita). Tidak ada lagi anak yang membuatkan saya doodle yang begitu indah (Reri). Tidak ada lagi anak yang tiap siang datang tidak diundang pulang tidak bilang-bilang dan tiba-tiba mengagetkan saya (Indri). Tidak ada lagi panggilan “Kak Lina, Kak Vividity, Kak Linlin, Kak Lilin” dari mereka (X MIA 1, X MIA 2, XI MIA 1, XI MIA 2, XI MIA 4, XI MIA 5). Maaf jika tidak sempat memberikan deskripsi masing-masing siswa.

Dan seorang anak lagi yang membuat kesedihan saya bertambah saat mengingat Soppeng. Seorang anak yang ingin saya kembali ke Soppeng di Hari Ulang tahunnya nanti (12 April 2015). Seorang anak yang tiap malam menemani saya di BBM. Seorang anak yang tiap hari ingin saya lihat di sekolah.  Seorang anak yang sampai sekarang belum memberikan saya pesan dan kesannya. Seorang anak yang membuat air mata saya bertambah deras saat menuliskan ini. Sisca.

Yah. “Tidak ada lagi”. 3 kata yang mewakili perasaan saya saat ini. Mereka ada, tapi tidak lagi menjadi bagian dari hidup saya sehari-hari. Mereka ada, tapi mungkin tidak lagi mengingat saya. Mereka ada, tapi tidak lagi sedekat 3 bulan kemarin. Mereka ada tapi tidak lagi bisa melihat senyum mereka. Mereka ada tapi tidak lagi mendengar panggilan kakak dari mereka.
Seharian di kamar kost, saya hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa. Tubuh ini terasa kaku untuk bergerak. Bukan karena lelah fisik, tapi lelah pikiran. Lelah dengan sebukit kenangan terindah yang selalu saja terpikirkan. Semangat saya seperti tertinggal di kota itu, Soppeng.

Ingin kembali ke masa-masa itu. Bangun pagi jam 5 dengan udara yang begitu dingin, mandi, shalat dan membangunkan mereka dengan tusukan tongkat sapu. Berteriak “Bangun, Bangun, Bangunki semua weee, sapa 3S ini hari?”. Saling berpapasan menciptakan rasa kaget di pagi hari. Berjalan tiap pagi menelusuri lorong dengan batu-batu kecil dan jalan yang menanjak hanya untuk mendahului Kepala Sekolah. Memberi Salam, Melemparkan Senyum, dan Menyapa (3S) mereka adik-adik yang begitu saya rindukan (sampai sekarang, genggaman tangan 3S mereka yang begitu dingin masih begitu terasa). Duduk di ruang guru menunggu jam mengajar tiba sambil menyeduh teh buatan Pak D (sesekali selfie dan membuat gosip tentang si Kerudung Merah :D). Berdiri di depan ruang guru hanya untuk menatap jauh mereka (Siswa-siswa saya). Tiap hari Senin sehabis upacara, menghabiskan waktu duduk di depan ruang guru menyaksikan mereka berolahraga. Sesekali menelusuri jalan tepat depan kelas mereka sambil melemparkan senyum menuju kantin paling belakang. Dan selalu berharap waktu begitu lama berputar saat mengajar agar bisa lebih lama menatap mereka.

Pulang ke sekolah dan kembali melihat saudara-saudara saya. berlomba turun ke dapur hanya untuk segelas Es Buah. Mendengar keluhan “paaaannnaaaassss” dari mereka. Bermain dengan cucu ibu posko. Bertengkar mulut dengan mereka. Makan bersama dengan penuh tawa dan canda. Seperti kelelawar yang berkeliaran di malam hari, menelusuri Jl. Kesatria menuju pusat kota (Panker, Pusper, dan Indomart). Hufft. Sungguh sesak memikirkan semua itu Ya Allah. :’(

Kini semuanya telah kembali. Kembali ke rutinitas masing-masing sebelum 3 bulan itu. Berada di kota padat yang panas dan penuh polusi, Makassar. Sendiri menatap dinding kamar kecil yang begitu sepi. Menginjakkan kaki di gedung biru yang kini telah mengalami perubahan yang banyak. Mendengar sapaan dari junior-junior yang katanya merindukan saya (dan itu pula menjadi pengobat rasa rindu ke siswa-siswa saya). Kembali meratap sepi mengenang hal terindah selama 3 bulan ini. Syukurlah, sapaan tidak henti-hentinya mereka suarakan lewat jejaring sosial (BBM, FB, bahkan Instagram), walaupun terkadang membuat saya tertawa dan tersenyum menangis. Berharap sapaan itu terus ada hingga tiba waktunya saya kembali ke kota itu tahun depan. InshaAllah.

Terima kasih yang sangat banyak saya kirimkan kepada Sang Pengatur Takdir. Terima kasih mempertemukan saya dengan mereka. Terima kasih telah menciptakan kenangan terindah selama 3 bulan ini. Kelak, di waktu yang berbeda dan gelar yang berbeda (S1), saya ingin kembali ke kota itu, kota yang saat ini begitu saya rindukan. Berharap kembali ke situasi itu, masa-masa KKN-PPL kami. Tapi mustahil, cukup berharap bisa kembali bersama-sama di Kota Kalong itu. Bercerita tentang kenangan terindah kami selama 3 bulan. I MISS U ALL. :’)

Terkhusus kepada Kepala SMA Negeri 1 Watansoppeng. Terima kasih banyak sudah memperlihatkan kedisiplinan yang nyata kepada kami Pak. Terima kasih untuk pelukan pertama dan terakhir yang begitu hangat dari bapak. :’)

“Karena setiap pertemuan akan berujung perpisahan..
Dan setiap perpisahan akan menciptakan pertemuan baru..
Berharap kenangan indah ini tetap ada di hati dan pikiran kita..
Salam rindu dan sayang untuk kalian semua..


Kenangan terindah saya..”


Rabu, 03 Juli 2013

Lantai Basah


Cleaning Service    : “Janganko lewat duuuluu.. Basah.ki itu..” (Sambil menutup pintu masuk jurusan dan kembali ngepel)..
Mahasiswa             : “Tidak kotorji sepatuku..Ada urusanku diatas.. (Ngebet mau masuk jurusan)..
Cleaning Service    : “Awasko nQah.. Kutanya Bu Nur/ Ketua Jurusan Fisika..” (Masuk ke WC ngebersihin kain pel)..
Mahasiswa             : “hihihi..“ (Cengingisan dengan mata melihat pergerakan si cleaning service terus ngindap2 masuk ke dalam jurusan)..
Cleaning Service    : “Dehhh.. Bekas sepatunya mi sapa itu?? Kotornaaa.. Awasko, kuhapal mukanu”.. (kembali ngepel)..

Hari itu, aku pikir akan telat pergi ngampus. Sampai di kampus jam 8, ternyata pintu jurusan fisika belum terbuka. Sedikit kesal dengan tukang kuncinya, kutuliskan keluhanku di Facebook. Beberapa menit menunggu di depan jurusan, akhirnya tukang kuncinya pun datang.

Duduk di depan ruangan Ketua Jurusan sambil bermain dengan barang kesayanganku (tentu saja Laptopku yang selalu menemaniku dan mendengarkan ceritaku). Tiba-tiba saja seorang cleaning service datang dan memulai pekerjaannya. Dipanggil “Kak Ika” kata teman-temanku (kalau pendengaranku tidak salah waktu itu). Yah. Sebut saja Kak Ika adalah nama dari cleaning service itu yang setiap harinya bekerja di jurusan Fisika. Aku tertarik menulis tentangnya saat mendengarnya membentak banyak mahasiswa.

Cleaning Service    : “Janganko lewat duuuluu.. Basah.ki itu..” (Sambil menutup pintu masuk jurusan dan kembali ngepel)..
Mahasiswa 1           : “Tidak kotorji sepatuku..Ada urusanku diatas.. (Ngebet mau masuk jurusan)..
Cleaning Service    : “Awasko nah.. Kutanya Bu N**/ Ketua Jurusan..” (Masuk ke WC ngebersihin pel)..
Mahasiswa 2          : “hihihi..“ (Cengingisan dengan mata melihat pergerakan si cleaning service terus ngindap2 masuk ke dalam jurusan)..
Cleaning Service    : “Dehhh.. Bekas sepatunya mi sapa itu?? Kotornaaa.. Awasko, kuhapal mukanu”.. (kembali ngepel)..
Beberapa saat kemudian..
Mahasiswa 2          : (Membuka pintu jurusan, jinjit-jinjit masuk ke jurusan)..
Cleaning Service    : “Ehhhh.. Ehhhh.. Kooootor lagi.. Baaaaasahki, Baaaaasahki, Baaaaasahki itu”.. (Tangannya yang memegang tongkat pel ditarik keatas bermaksud ingin memukul untuk menakut-nakuti mahasiswa itu)..
Mahasiswa 2          : “Hehehe.. Tidakji kak Ika.. Bersihji sepatuku eeeeee..”
Cleaning Service    : “Jilat.mi itueeee kalau bersihhhhh..  Yeeeee’, kotormi lagi.. Awasko, kulaporko bu N**.. Dosen saja beranika bilangi kalau basah.i..” (Kembali untuk kesekian kalinya membersihkan lantai itu)..
Beberapa saat kemudian, Ketua Jurusan melintas..
Dengan memperhatikan lantai, beliau pun kemudian dengan hati-hati berjalan mencari bidang lantai yang cukup kering untuk dilalui.
Cleaning Service    : “Buuuu.. Masih basah.ki kodong buuuu”.. (Dengan nada rendah dan bibir agak manyun, tapi tetap berusaha untuk menghormatinya)..
Dosen 1                 : (lewat begitu saja)
Cleaning Service    : “Ihhhhh baaaapakk..

Setidaknya itulah beberapa keributan yang begitu detail kuperhatikan saat duduk menyaksikan mereka semua (Mahasiswa, Cleaning Service dan juga dosen). Kejadian itu sungguh membuatku tertawa beberapa kali. Berbeda dengan banyak cleaning service yang kutemui di berbagai tempat. Disaat ada saja orang yang mengganggu perkerjaannya, mereka hanya bisa terdiam dan tidak melakukan apa-apa. Cleaning Service yang ada di jurusanku ini, cerewetnya bukan main. Sangat berani mengeluh ke dosen saat pekerjaannya dihalangi ataupun terganggu.

Sempat kudengar juga dia berbicara saat sedang mengepel ulang lantai 1 jurusan itu, dan aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.

Cleaning Service    : “Kau kita gampang pekerjaanku.. Dari pagi sampe sorema disini, kau kira tidak capekka.. Awaskoooo....., Prof. S**** saja berani.ka larang.i lewat kalau masih basah.i, apalagi kau jiiiiiiiiiii cee’, mahasiswa jako.. Kutanyako bu N**..”

Disaat banyak mahasiswa yang berlalu melintasi lantai yang masih setengah kering itu, aku masih saja duduk terdiam menatapi setiap jejak langkah mereka. Yah kotor lagi, pikirku. Aku saja yang sangat ingin bergerak pindah karena ada perkerjaan yang menanti dan mendesak, masih takut untuk melintasi lantai itu. Bukan takut dengan tongkat pelnya kak Ika, tapi takut mengotori lantai itu. Walaupun belum pernah menjadi seorang Cleaning Service jurusan, tapi tetap saja, bagi mereka yang sering ngepel di rumahnya pastilah ngerasain kekesalan saat lantai yang masih basah, yang dengan susahnya dibersihin, dilalui oleh adik/kakaknya dan terpaksa mengepel ulang. Sulitkah untuk menunggu sedikit saja sampai lantainya kering? Alasannya “Adami dosenku, terlambatka nanti masuk kelas”.

Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa pekerjaan seorang Cleaning Service itu adalah pekerjaan yang tidak terlalu penting jadi mereka juga tidak pernah menganggap penting (menghargai) seorang Cleaning Service. Hanya karena mereka memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan seorang Cleaning Service. Hanya karena mereka membayar SPP dan selalu berpikir berhak atas segalanya termasuk berjalan seenaknya di atas lantai yang masih basah.

Mario Teguh Keliru
“Manusia terindah adalah manusia yang bermanfaat untuk saudaranya (Mario Teguh)”. Sudah jelas manfaat dari seorang Cleaning Service, tapi apa manfaat kalian untuk mereka?? Hanya membebani mereka dengan sepatu kotor kalian di lantai basah.
“Hadiah pertama bagi orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan (Mario Teguh)”. Hadiah pertama bagi seorang Cleaning Service yang melakukan kebaikan adalah jejak sepatu kotor di lantai basah.

NOTE:
Tulisan ini tertuju ke mereka yang kurang menghargai pekerjaan orang lain. Bukan hanya mereka, tapi aku juga.


Minggu, 30 Juni 2013

Menjadi Penalaran

LANGKAHKU MENJADI PENALARAN

Ruang Senat gedung Rektorat Universitas Negeri Makassar (UNM) tanggal 13 Januari 2013, 400 lebih mahasiswa UNM dari berbagai fakultas duduk bersama sebagai calon anggota Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM-P) UNM. Dengan sebuah dorongan yang kuat dari penasehat akademikku (Pak Subaer), akupun berada diantara 400 lebih mahasiswa itu. Technical Meeting saat itu membahas tentang tes-tes yang harus kami lewati 2 minggu kedepannya untuk dapat lolos masuk di daftar 120 calon laskar nalar. Dimulai dari Wawancara, Focus Group Discussion, dan Tes Tertulis, itulah 3 hal yang harus kami taklukkan. Rasa takutku dimulai saat mendengar kata “Discussion”. Selama menuntut ilmu, diskusilah hal yang paling aku benci. Kenapa? Karena diriku sangat sulit untuk berpendapat dan saat itu juga, pikiranku mulai dikerumungi oleh segerombolan kata “Mampukah saya?”.

WAWANCARA
Kamis, 17 Januari 2013, tes pertamaku dimulai dengan wawancara di Rumah Nalar (RN). Berangkat dari kampus menuju RN, kakiku perlahan melangkah ke depan menyusuri lorong kecil. Saat itu, kaki ini terasa sangat berat untuk melangkah. Menatap butiran tanah dan batu kecil berharap mereka dapat memberikan koefisien gesekan yang begitu besar untuk menghentikan langkahku. Bisikan-bisikan maya pun terdengar begitu jelas ingin menghentikanku. Namun, semuanya itu justru membuatku menyentuhkan kakiku di rumah itu.

Berdiam satu jam, dan akhirnya wawancaraku pun dimulai. Dengan perasaan yang tidak karuan, aku memasuki salah satu kamar di rumah itu. Didalamnya seorang kakak anggota LPM-P Penalaran yang saat itu terlihat sangat sangar sudah siap untuk mewawancaraiku dan kuketahui bahwa namanya itu adalah kak Lola dari jurusan Physicologi. Beberapa saat setelah aku duduk di depan kakak itu, datang salah seorang kakak yang sangat tidak asing bagiku, kak Ainun Najib Alfatih yang merupakan seniorku di Fisika, ternyata dia juga yang akan mewawancaraiku.

FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) 1 & 2
Hari yang sama, selesai wawancara kulanjutkan langkahku menuju gedung Rektorat Lama UNM untuk Focus Group Discussion. “Anak Muda di Pemerintahan Terlibat Korupsi”, menjadi tema FGD kami saat itu didampingi oleh dua orang kakak anggota penalaran (kak Musdikah dan kak Asma). Untuk FGD kedua dengan tema “Perdamaian di Timur Tengah”. Singkat cerita, 4 kali bicara pada diskusi pertama dan 2 kali di dalam diskusi kedua. Suatu kelemahan yang begitu sulit kuubah (sulit dan kurang percaya diri untuk berpendapat, padahal semuanya begitu mudah terpikirkan).

067 di 120
Singkat cerita, tanggal 2 Februari 2013, kubuka website www.penalaran-unm.org dan kulihat nama Nurlina dengan nomor test 067 berada di baris 93 dari 120 orang yang lolos menuju tahap PMP (sulit untuk mengekspresikan kebahagiaanku lewat sebuah tulisan).

PMP
Bukit Baruga Athira Antang tanggal 14-17 Februari 2013 merupakan langkah awal menuju gerbang LPM Penalaran. Langkah awal “Menjadi Penalaran”. Selama 4 hari berada di tempat itu. Menerima materi, tugas KTI Individu dan punishment karena meninggalkan tempat itu untuk kuliah, beberapa hal yang kudapatkan selama berada disana. Sungguh melelahkan tapi detik-detik yang kulalui disana begitu terekam di memoriku.

Beberapa hari selanjutnya, kami (Calon Anak Nalar) harus kembali sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menjadi Laskar Nalar.  KTI Individu adalah tugas selanjutnya yang harus kami selesaikan. 2 Minggu waktu yang mereka berikan untuk menyelesaikan semuanya. Saat itu yang menjadi pendamping KTI individuku adalah senior di Fisika (Kak Ainun Najib Alfatih) dan menjadi pengarah yaitu Kak Nurhayati (kak Cahya), senior di Kimia.

1 minggu setelah pemberian tugas itu, aku masih belum bisa memfokuskan pikiranku untuk membuat suatu karya tulis. “Jangan fokus sama judulnya, tapi fokuslah kepada masalah yang ada di sekitar. Mencoba untuk peka terhadap lingkungan”  itulah sebagian kecil komentar dari kak Indra di status facebookku. Pendampingku menelfon dan menanyakan tentang tugasku.”Nda kutau sekalimi kak.. stress.ku pikirkan tentang masalah yang mau kujadikan karya tulis kak... mundur.ma di’ kak??...”” kataku.

Semuanya ternyata berbeda, malamnya aku bersama teman kelasku yang juga calon anak Nalar pergi ke RN (Rumah Nalar) menemui pendampingku. Dari situ, pendampingku memberikan sebuah permasalahan untuk kujadikan bahan karya tulisku. Setelah beberapa hari dan beberapa kali konsultasi dengan pendamping (walaupun lewat Email), akhirnya BAB 1 KTI ku pun jadi. Untuk selanjutnya adalah pengumpulan BAB 2 yang sungguh membuatku down karena hari-hari sebelum pengumpulan BAB 2 itu, aku mengalami kecelakaan motor dan lagi-lagi pikiranku langsung tertuju pada sebuah kata “MUNDUR”, tapi teman-teman kelasku begitu sangat mendorongku untuk terus maju, bahkan mereka bermaksud mambantuku untuk menyelesaikan BAB 2 itu. Hari-hari berlanjut, dan tiba saat hari terakhir pengumpulan KTI. Semuanya berantakan, karena sesuatu hal. Deadline pengumpulan sudah lewat, kepalaku pun sangat sakit menunggu hasil koreksi dari paperku yang waktu itu menunjukkan pukul 12 malam lewat at Rumah Nalar bersama calon anak Nalar lainnya. Kuputuskan untuk pulang dan menyerah.

Dalam perjalanan pulang, aku menangis. Aku memikirkan segala langkah yang telah kulalui sampai tahap itu. Kusembunyikan wajahku yang sudah dibanjiri oleh air mata dari kakakku yang mengantarku pulang. Aku langsung terbaring di dalam kamar dan kembali menangis. Sempat kukirimkan pesan kepada temanku dan pendampingku bahwa aku ingin mundur.

Esok harinya, aku terbangun dengan sebuah new message dari pendampingku. Setelah beberapa saat, aku kembali berpikir harus menyelesaikan KTI itu. Ternyata masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Kucoba kembali fokus. Hal itulah yang kulakukan sampai 1 minggu ke depannya. Dan pada akhirnya KTIku pun diterima. Tentang penelitian kelompokku, tidak sedikitpun pemikiranku ada pada penelitian itu. Aku teringat saat hari terakhir pengumpulan penelitian kelompok. Saat itu adalah malam dimana besok aku harus menghadapi ujian 1 Fisika Matematika II (mata kuliah terberat di semester IV untuk jurusan Fisika). Hari itu aku berada di kost salah satu temanku untuk belajar. Sekitar jam 7 malam, aku harus pergi ke RN untuk menemui pendamping penelitian kelompokku (kak Elwinda). Ternyata masih banyak yang harus diubah dari penelitian kami. Kuputuskan untuk menghubungi teman-teman kelompokku, karena sejujurnya aku sendiri juga tidak tahu apa isi dari penelitian itu. Saat semuanya berkumpul, aku gelisah memikirkan ujian besok. Akupun mencoba memberanikan diri untuk meminta izin kepada mereka untuk pulang terlebih dahulu. Aku merasa sangat bersalah saat itu meninggalkan mereka. Tapi Alhamdulillah, semuanya selesai dan terkumpul dengan keterlambatan sekitar 2 jam.

Hari Minggu, 17 Maret 2013. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. “Seminar Hasil”, hari itu mungkin adalah hari yang sangat membuat down bagi kelompokku. Bagaimana tidak? Penelitian kelompokku dianggap sebagai makalah oleh para penguji. Hufftt, sangat melelahkan. Kami semua diberi waktu untuk merevisi hasil penelitian kami selama 5 hari dan dikumpul 4 ham sebelum OMK. 3 hari setelah seminar hasil, kami belum melakukan apapun mengenai revisi penelitian kami. Tepat malam sebelum hari OMK tiba, kami pun mulai sangat sibuk untuk merevisi penelitian kami. Dibantu oleh kak Ical (Seorang senior di Fisika yang juga merupakan anak penalaran yang berprestasi dalam hal penelitian). Malam itu, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk dapat berperan aktif dalam penyelesaian penelitian kami yang harus kami ubah sepenuhnya dan hal itu membuatku tidur hanya sejam (Penelitian SKS). Thanks God, ternyata masih bisa aktif dan bekerja sama dengan mereka. Kak Winda, Kak Firman, Kak Wilson, Kak Ical, Kak Najib, Kak Cahya, Azwar, Madil, Ilmi, Azmi, Tija, dan Ica, terima kasih atas bimbingan dan kerja sama kalian selama PMP.

OMK
Orientasi Manajemen Keorganisasian (OMK) pun tiba. 22-24 Maret 2013, at Benteng Somba Opu tepatnya di Rumah adat Jeneponto dan Takalar. Kami semua calon anak nalar kembali dikumpulkan untuk mengikuti tahap kedua. Selama 3 hari 2 malam kami berada di tempat itu. Hari pertama, tepatnya sore hari kami dikumpulkan di Rumah Adat Jeneponto untuk menerima arahan dari panitia. Malam harinya kami kembali dikumpulkan di Rumah Adar Takalar untuk menerima materi pendahuluan mengenai “LPM-P UNM masa lalu, kini dan yang akan datang”. Materi yang 2 jam lebih disampaikan membuatku over sleepy. Sungguh tak tertahankan hingga membuatku tertidur-terbangun beberapa kali. Tapi setelah itu, diriku kembali bersemangat saat para panitia memperkenalkan 5 bidang yang ada di LPM Penalaran UNM. Dari  situ juga kami disuruh untuk menuliskan bidang dan program kerja yang disukai. Aku menuliskan DIKLAT sebagai bidang yang sangat aku minati.

Hari kedua, 63 calon anak penalaran disuruh untuk menuliskan 3 orang kakak panitia yang diinginkan untuk menjadi seorang pendamping. Kutuliskan 3 nama kakak yang sudah sangat kukenal, 2 orang yang merupakan seniorku di fisika (kak  Elwinda dan kak Seon) dan 1 orang lagi yang merupakan pendampingku saat Focus Group Discussion (kak Asma). Sebenarnya, ada 1 kakak yang sangat kuinginkan agar dia menjadi pendampingku (kak Nisa) yang juga merupakan Ketua Bidang Diklat. Tapi tidak, yang disuruhkan kepada kami adalah menuliskan 3 kakak yang sudah kami kenal.

Hari terakhir at Benteng Somba Opu, kakak panitia mengumumkan nama-nama calon laskar nalar berserta tim ahlinya dan Alhamdulillah diriku termasuk dalam Sahabat Kecil Diklat. Waahhhh. Thanks God. Im so happy. Hari itu pun berakhir dengan pengarahan terakhir oleh kak Elwinda mengenai tugas-tugas yang akan kami lakukan sampai pada hari Pengukuhan. Ternyata, masih ada tugas yang lebih berat lagi dari pada hari-hari kemarin. Praktek Manajemen Keorganisasian (PMK), Volunteer, dan Tim Ahli adalah proses yang harus kami lalui selanjutnya. But. Keep vividity. Diriku semakin bersemangat untuk menuju hari pengukuhan karena bisa menjadi Sahabat Kecil Diklat.

Aku teringat saat rapat Sahabat Kecil Diklat bersama DIKLAT 24 April 2013 di RN. Saat itu kak Nisa bertanya kepada Sahabat Kecil Diklat mengenai perasaan kami sampai tahap ini di penalaran. Tapi sekali lagi, rasa takutku kembali muncul untuk berbicara di depan mereka. Aku terkadang bingung, kenapa aku tidak seperti mereka (teman-teman seangkatanku di penalaran). Dengan lancarnya mereka berbicara mengenai perasaan mereka kepada kakak-kakak DIKLAT. Sedangkan aku? Bibirku seakan terkunci. Tanpa berpikir aku hanya menjawabnya dengan singkat dan setelah itu, aku kembali memikrkan apa yang saat itu kukatakan dan merasa bahwa kata-kataku seperti orang bodoh. Banyak hal yang ingin kusampaikan tapi begitu sulit kukatakan. Mengenai perasaanku di penalaran sampai tahap PMK yang tidak sempat kuutarakan menjadi sebuah status di Facebook dan blogku.

Merasa bahagia ketika melihat kakak-kakak berkumpul dan tertawa bersama (aku ingin berada di antara mereka, pikirku).
Ucapan terima kasih yang mungkin sangat sulit terucap kepada kakak-kakak yang memberikan banyak pengetahuan kepada kami. Hal itu betul-betul membuatku terpukau melihat banyak orang-orang hebat di penalaran.
DIKLAT, menjadi bagian kecil dari mereka, Im so happy. Saat ini, aku sangat termotivasi dengan sosok kakak yang ada di DIKLAT, kak Nisa. Mungkin sejak PMP at Athirah, kakak itu menjadi orang yang sangat ingin kucontoh.
Aku juga sangat tertarik dengan program kerja DIKLAT (KARPET/ Kajian Pemateri). Berharap aku bisa belajar menjadi seorang pemateri. Walapun sampai sekarang aku dikalahkan oleh banyak mahasiswa angkatan 2012 yang juga merupakan calon anak nalar karena mereka sudah berani untuk tampil menjadi seorang pemateri. Lalu dimana aku? Aku masih sangat jauh di bawah mereka yang masih saja malu untuk tampil di depan banyak orang. Menjadi moderator pun tidak beres. Keinginanku yang paling mendalam jika diterima di penalaran, semoga masih tetap bersama DIKLAT. Diterima atau tidak di penalaran, berharap agar aku bisa akrab dengan mereka semua.

Beberapa kalimat yang mewakili perasaanku saat itu.

PENGUKUHAN
17 Mei 2013, Pantai Punaga daerah Takalar. Tempat yang awalnya sangat biasa menurutku menjadi tempat yang begitu luat biasa. Yah, sejak dulu aku sangat membenci laut, tapi setelah kegiatan ini, semuanya berubah.  Panas, lelah, kehausan, dan lapar, hal itulah yang kami rasakan dihari kedua di Pantai Punaga itu. Namun, di balik semua itu ada banyak hal yang berharga kami dapatkan dari setiap Game yang diadakan oleh enam pos yang kami lewati. Intinya adalah mengenal tim dan kerja sama tim adalah hal yang terpenting dalam sebuah permainan. Beberapa game sebagai salah satu contoh hal-hal yang akan kami hadapai dalam sebuah keorganisasian. Begitu berharga dan membuatku masih sangat kurang. Aku masih belum mengenal 60 orang itu.

Lomba masak dan pentas seni menjadi agenda kami untuk malam harinya. Walaupun masakan kelompokku mendapat banyak komentar dari para juru, tetap saja kami masih sangat semangat untuk menyiapkan pentas seni yang akan diadakan setelah lomba masak itu. Sebuah puisi berantai mengenai perjalanan kami di Penalaran menjadi pilihan kami. Terkhusus untuk diriku, dengan keringat dingin yang membanjiri telapak tanganku, dan bibir yang bergetar, inilah bait yang kulantunkan:

PMP berlalu OMK pun menanti.
Suka, duka, lelah, ngantuk, semua datang silih berganti.
Aku melewatinya.
Kembali kunyalakan semangatku.
Ini tentang semangat OMK.
Terima kasih kanda.

00.00. Waktunya untuk kembali ke pulau impian. Sekitar pukul 02.30, aku terbangun karena seseorang yang memaksaku untuk bangun, langsung menutup mataku dan membawaku ke pinggir laut. Oh My God, detik-detik pengukuhan telah tiba, pikirku. Salah seorang kakak panitia datang dan berdiri di depan kami. Awalnya, telingaku masih belum fokus untuk menerima perkataan dari kakak itu karena rasa ngantuk yang menyerangku.Tapi, setelah beberapa saat, aku sadar ternyata kakak yang memberikan sepatah kata sebelum pengukuhan itu adalah kakak yang sangat kukagumi, kak Nisa. Saat itupun, setiap perkataannya begitu terekam jelas di kepalaku.

“Jika tujuanmu masuk ke Penalaran hanya karena kekagumanmuji dengan salah seorang kakak di penalaran, pikir-pikir memangmi dek. Saya lebih menyukai orang-orang yang saat ini ingin mundur karena berpikir tidak sanggup dari pada orang-orang yang tetap bertahan hanya karena NRA. Jangan karena seseorang namauki masuk di penalaran dek, tapi karena kecintaanmu terhadap lembaga karena suatu saat orang itu akan meninggalkanmu dan mengecewakanmu”.

Setelah kak Nisa, akhirnya kamipun menyebutkan sumpah kami di Penalaran dan dikukuhkan langsung oleh Ketua LPM Penalaran UNM, kak Soma Salim Sain. Tepat pukul 03.56, disaksikan langsung oleh kakak-kakak panitia dan laut Punaga, kami 61 orang resmi menjadi anggota LPM Penalaran UNM angkatan XVI. Alhamdulillah. Tidak selesai sampai disitu, dengan bergiliran kamipun bertanda tangan di buku Anggota LPM Penalaran UNM. Selamat pertama datang dari kak Najib, lalu dilanjutkan ke kak Salim (yang untuk pertama kalinya tersenyum padaku) dan pengurus-pengurus lainnya (termasuk kakak-kakak di DIKLAT). Setelah ucapan selamat dari semua kakak-kakak di penalaran, kutatap baik-baik kartu anggotaku dengan NRA 033/LPM-PNL/2013. Semua tahap menjadi penalaran kulalui, yang kupikirkan kini hanyalah bagaimana caranya agar diriku bisa bermanfaat di penalaran. Penutupan PMP-OMKpun usai. Kebencianku terhadap laut kini berubah 180 derajat. Aku kini sangat menyukaimu laut, bukan karena keindahanmu, tapi cerita yang kudapatkan darimu. Terima kasih untuk semua kakak-kakak di penalaran.

Saya pernah mendengar cerita tentang sebuah mutiara.
Katanya “pernah ada sebuah kerang yang ditemukan oleh nelayan. Tapi ketika dibuka isinya hanya pasir lalu nelayan tersebut membuang kerang itu namun tanpa nelayan itu ketahui bahwa kerang yang ia buang itu merupakan kerang mutiara yang sedang berproses menjadi mutiara yang mahal harganya.
Kita di penalaran ibarat mutiara tersebut. Kita ada di dalamnya untuk berproses menjadi sebuah mutiara yang mahal harganya. Dimanapun mutiara itu berada pasti akan dicari oleh orang-orang bahkan jika mutiara tersebut jatuh dalam kubangan, ornag-orang akan tetap mencarinya. Semua orang yang ada di dalam lembaga ini melalui sebuah proses untuk menjadi mutiara.
Untuk adik-adikku, jangan lelah untuk berproses menjadi sebuah mutiara karena menjadi sebuah mutiara dibutuhkan sebuah proses panjang. Perjuangan kalian untuk menjadi mutiara melalui lembaga ini baru saja dimulai sejak memiliki NRA. Teruslah berproses untuk diri kalian, jangan sia-siakan kesempatan kalian!! ^_^
(Nisa, 2013)

Sedikit cerita tentang filosofi mutiara yang kudapat di grup PMP-OMK XVI yang diposting langsung oleh kak Nisa tanggal 20 Mei 2013 pukul 11.40.
Sekali lagi, terima kasih kanda. ^_^

BIODATA PENULIS
Namaku Nurlina. Biasa dipanggil Lina, Lili’, dan Vividity. Lahir di kota Majene tanggal 11 Januari 1994.. Menempuh pendidikan di TK Aisyiah Majene dan lanjut di SD Negeri 2 Majene. Setelah itu, di tahun 2005 kulanjutkan pendidikanku di SMP Negeri 3 Majene dan tahun 2008 masuk di SMA Negeri 2 Majene. Saat ini sedang menyelesaikan S1ku di jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Makassar Kelas International Class Program (ICP). Ditahun kedua pendidikan S1ku, aku mulai bergabung dalam Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM-P UNM).


Menulis adalah hal yang sangat kusukai. Blogging, membaca buku atau artikel tentang kosmologi dan astrofisika menjadi kebiasaanku. Hal-hal yang kulalui di penalaran tertulis lengkap di blog pribadiku, http://vividitylina.blogspot.com/ akun facebookku, https://www.facebook.com/vividitylina dan twitterku @ Nurlina41923180 . Menjadi dosen fisika profesional adalah cita-citaku. Harapan-harapanku di dunia fisika begitu banyak, ada yang sudah kumiliki dan ada juga gagal kumiliki karena terkadang memang harapan sangat mengecewakan, yang bisa dilakukan adalah bangkit, tetap semangat dan terus berusaha. Semuanya akan terlalui dengan baik. This Too Will Pass. Think the best, do the best, and get the best. Keep Vividity.